Saya termasuk penggemar permen dan setelah membaca ini, mungkin, akan lebih berhati-hati memilih permen yang akan dimakan, heheā€¦ Orang tua terutama yang memiliki anak-anak perlu memperhatikan kondisi ini.
Sebenarnya, kalau dipikir-pikir, kebanyakan makanan yang beredar di masyarakat adalah bahan makanan yang tidak baik untuk kesehatan. Lalu, apakah kita akan memilih jalur ekstrim untuk tidak makan sama sekali, atau masih mentolerir dengan berbagai pengamanan dan keterbatasan?

Penikmat Permen Rentan Gagal Ginjal
Senin, 23 Maret 2009

Dampak Pengendapan Bahan Tambahan Imitasi
Permen
SAAT ini anak dimanjakan oleh beraneka merek permen. Bentuk dan rasanya pun bermacam-macam. Padahal, ada kandungan permen yang tak baik buat kesehatan. “Bahkan, bila dikonsumsi jangka panjang, memungkinkan munculnya kegagalan fungsi ginjal. Karena itu, apa pun alasannya, saya tak merekomendasikan orang tua memberikan permen jika anaknya meminta,” tegas Andriyanto. Bahan yang tak baik untuk kesehatan tersebut adalah zat pewarna. Apalagi, kebanyakan permen menggunakan zat pewarna yang tak direkomendasikan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Misalnya, warna merah dari rhodamin B atau permen berwarna kuning yang menggunakan metal yellow. “Itu berbahaya. Sebab, rhodamin B merupakan bahan pewarna tekstil. Tentu, ini tak boleh dimanfaatkan sebagai bahan pencampur makanan,” jelas dosen Akademi Gizi Surabaya tersebut.

Selain itu, ada beberapa produk permen yang menggunakan pemanis buatan berbahan aspartam. Bila dikonsumsi dalam jumlah berlebih, permen yang mengandung zat tersebut bisa mencetuskan kanker. Batas maksimal konsumsi aspartam adalah 40 miligram (mg) per kilogram berat badan. Ada pula yang menggunakan sakarin. Gula buatan ini menghasilkan rasa sangat manis, biasanya menimbulkan rasa pahit atau getir di lidah konsumen.
”Belum lagi tambahan bahan lain berupa asam organik yang memberikan rasa segar buah-buahan. Misalnya, asam sitrat. Bila berlebihan, bahan tersebut membahayakan lambung” terangnya.

Ketua Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Surabaya itu menambahkan, bahan imitasi (buatan) sangat sulit dicerna tubuh, terutama ginjal. ”Kerja ginjal akan makin berat dengan adanya bahan imitasi tersebut,” jelasnya. Kondisi itu membuat penikmat permen rentan mengalami gagal ginjal. Andriyanto mengatakan, dampak tersebut tak langsung muncul dalam waktu satu atau dua tahun. ”Biasanya baru muncul setelah usia 40 tahunan,” ujarnya. Padahal, di usia tersebut seseorang sedang giat-giatnya bekerja. Bila sudah sakit parah, dia tentu akan menjadi beban keluarga. Selain itu, tak semua bahan pemanis, pengawet, dan pewarna buatan tersebut bisa diproses dan dibuang dari tubuh. Ada kemungkinan mengendap bertahun-tahun. ”Benda asing bila mengendap bertahun-tahun berdampak perubahan sel-sel tubuh. Hal ini yang memungkinkan munculnya kanker,” jelasnya.

Dampak lain, permen berisiko memunculkan sindrom metabolik. ”Hampir tak ada kalori yang bermanfaat” jelasnya. Nah, kelebihan kalori ditumpuk di tubuh dalam bentuk cadangan lemak. Hal ini berakibat anak mengalami kelebihan berat badan. Padahal, kegemukan berkaitan erat dengan kencing manis dan penyakit jantung koroner. ”Permen juga membuat anak mudah terkena karies gigi, terutama bila tak rajin sikat gigi atau minum air putih untuk menghilangkan sisa-sisa permen yang menempel di rongga mulut,” kata dia. Bahkan, ada penelitian yang mengaitkan permen dengan penurunan kadar intelegensi. Yakni, tingkat IQ anak yang mengonsumsi permen lebih rendah 5-10 persen dibandingkan anak yang terbiasa makan karbohidrat kompleks berupa nasi atau kentang. Ada satu hal yang patut diingat orang tua. Yakni, konsumsi permen terlalu banyak akan mengurangi nafsu makan, itu terjadi bila mengulum permen mendekati jadwal makan. ”Gula yang terkandung dalam permen memberikan efek kenyang. Hal ini mengurangi selera makan anak,” paparnya. (ai/nda)
Memilih Permen untuk Anak
- Pilih permen berharga mahal. Itu menunjukkan, bahan pewarna, pemanis, dan pengawet sesuai dengan ketentuan.
- Pilih permen bertekstur keras. Ada waktu bagi anak untuk menghabiskan permen dengan cara dikulum.
- Hindari permen bertekstur lunak. Anak cenderung mengunyah dan langsung telan. Sisa permen memicu karies gigi.

Sumber: Andriyanto

batampos.co.id/…/_Penikmat_Permen_Rentan_Gagal_Ginjal_.html

Comments are closed.