Ini adalah tulisan pertama saya yang saya ikutkan dalam sebuah kompetisi “kompetiblog 2010″.

Meskipun ga menang, hehe…

Anak-anak Belanda Paling Bahagia di Dunia

“Dalam sebuah survey yang memantau tingkat kebahagiaan anak di dunia, ternyata anak-anak Belanda adalah yang paling bahagia di dunia.” (kompasiana.com)

“Jajak pendapat dalam majalah kawula muda Kidsweek menunjukkan bahwa anak berusia antara 7 sampai 10 tahun memberi nilai 8,8 untuk ibu dan 8,9 untuk ayah mereka. Anak antara 11 sampai 15 tahun agak turun kepuasaannya dengan ayah mereka, ia dinilai 8,6, sedang ibu tetap saja mendapat nilai yang sama.” (static.rnw.nl)

Hmm… Masa iya? Memangnya apa kelebihan negeri yang terkenal karena kincir anginnya itu dibandingkan dengan negara-negara lain yang tidak kalah maju? Dibandingkan Jepang, Amerika, Inggris, Perancis atau mungkin dengan Indonesia. Bener gak tuh hasil surveynyaa???

Saya begitu penasaran mengapa bisa seperti itu, akhirnya setelah beberapa pencarian, dengan mengemix beberapa artikel yang saya temukan, saya bisa menyimpulkannya dalam artikel yang saya tulis ini. Coba kita lihat !

Menurut saya, seorang anak akan bahagia apabila dia mendapatkan perlindungan, perawatan, kenyamanan, keamanan, perhatian, dan pendidikan dari orang-orang terdekatnya, terutama dari kedua orang tuanya, barulah karena dipengaruhi oleh faktor lingkungannya. Itu berarti, aktor utama yang akan sangat berperan bagi kehidupan anak adalah kedua orang tuanya. Semua itu bermula dari awal anak tersebut berada di dalam kandungan Ibu hingga ia tumbuh dan berkembang menjadi orang dewasa.

Dari artikel yang saya baca di Harian Sindo (31/03/2008), dijelaskan bahwa wanita-wanita di Belanda lebih memilih melahirkan alami daripada dengan bantuan alat (red: caesar, vacoom, dll). Menurut hasil investigasi, melahirkan secara alami lebih disukai wanita Belanda sampai mereka merasakan komplikasi yang memaksa mereka mendapatkan bantuan rumah sakit.
Belanda merupakan negara dengan angka kelahiran bayi di rumah tertinggi di Eropa, mencapai sekitar 30 persen. Hanya 10 persen wanita Belanda yang melakukan operasi caesar. Ternyata, kuncinya terletak pada filosofi masyarakat Belanda yang masih menganggap bahwa kelahiran seorang bayi merupakan proses alamiah yang tidak seharusnya dicampurtangani urusan medis. Selama semua baik-baik saja, masyarakat Belanda masih memercayakan penanganan kelahiran bayinya kepada bidan di rumah ketimbang dokter di rumah sakit. Hmm… Dari proses melahirkannya saja mereka begitu memegang filosofi yang mereka anut !

Selanjutnya, ketika anak telah lahir ke dunia, tibalah saat dimana ia akan memperoleh pengasuhan dari keluarganya terutama orang tua. Dalam fase perkembangan ini pula, perhatian, kasih sayang, kenyamanan, keamanan, akan menentukan apakah anak-anak akan merasa bahagia di rumah atau justru sebaliknya.

Seorang pakar pendidikan Belanda, Justine Pardoen mengatakan bahwa orangtua Belanda berusaha sebaik-baiknya mendidik anak mereka.Ternyata, di Belanda itu, para orang tuanya lebih banyak memiliki waktu untuk dihabiskan dengan anak-anak, dengan banyaknya waktu yang mereka miliki, maka perhatian, kasih sayang mereka akan lebih banyak tercurah pada sang anak. Mereka lebih banyak memiliki waktu untuk mengurus anak, mulai dari memberikan perhatian dan kasih sayang, menstimulasi perkembangan anak, menanamkan pendidikan pada anak, dan tentunya sang anak akan merasa bahagia mendapatkan kasih sayang dari otrang tuanya. Dampak lebih jauhnya, perkembangan mereka di masa kecil ini tentu akan memengaruhi masa depan mereka, lebih banyak anak yang berkembang sesuai potensinya, lebih banyak anak yang sukses, semua itu berkat dukungan orang tua, terutama pada saat masa kecil mereka. Seperti yang kita tahu, bahwa penglaman masa kecil akan sangat teringat dan berdampak pada kehidupan selanjutnya.

Sekarang, mengapa para orang tua di Belanda lebih banyak memiliki waktu untuk anak-anak mereka? Hmm… Di Belanda sudah lama dikenal konsep work sharing, dan ada undang-undang yang melarang employer membedakan gaji antara pekerja full time dengan pekerja part time. Jumlah uang yang diterima jelas berbeda, karena yang satu bekerja full time sedangkan yang lainnya part time, tetapi upah perjam, asuransi kesehatan, dan tunjangan-tunjangan lainnya adalah sama. Ini membuat para orang tua di Belanda lebih bebas dan tenang dalam merencanakan kondisi finansial keluarga dengan tidak mengorbankan waktu berharga bersama anak-anak. Menurut saya, sebenarnya bukan karena hal itu saja, orang-orang Belanda mungkin memang memiliki anggapan bahwa anak adalah sesuatu yang sangat penting yang harus dijaga, jika tidak, mungkin saja mereka menghabiskan waktu yang dimiliki hanya untuk bersenang-senang sendiri. Wah, Indonesia perlu tuh kayak gitu, biar anak-anak Indonesia juga bahagia, terus bisa memajukan negara.

Bagaimana dengan di Indonesia?

Indonesia memang belum bisa menerapkan undang-undang yang seperti itu, tetapi kita bisa mengakalinya dengan cara lain. Orang tua dapat saling bekerjasama dalam rumah tangga, dalam hal pengurusan rumah tangga maupun membesarkan anak. Ayah bisa membantu Ibu memasak kalau Ibu sedang mengurus si kecil. Begitu pula Ibu, bisa membantu Ayah mendapatkan penghasilan ketika penghasilan Ayah belum mampu mencukupi. Intinya, di Indonesia itu, adat dan budayanya udah bagus banget, tinggal kitanya aja mau ngelaksanain dengan “bener” atau gak. Hidup Indonesia…!!!

kompasiana.com

lifestyle.okezone.com/…/wanita-belanda-pilih-melahirkan-alami -

static.rnw.nl/migratie/www.ranesi.nl/…/belanda_didik230508

Comments are closed.