Archive for June, 2010

Dunia teknologi yang semakin canggih, memasuki semua lini kehidupan manusia. Mulai dari handphone, televisi, laptop, atau bahkan robot. Kali ini saya akan membahas mengenai Robochild. Artikel yang saya dapatkan ini, mengenai Robochild, yang bentuk dan pemrogramannya sangat mirip dengan anak. Sebagai anak IKK, saya tertarik untuk menelisik lebih dalam tentang Robot ini. Belum banyak yang mengupas lebih jauh mengenai robot ini. Akan sangat berguna, atau justru menjadi bencana??? Berikut ini artikelnya!
RoboChild

Robochild

Child-Robot with Biomimetic Body disingkat dengan nama panggilan CB2 ini sekilas terlihat lucu dan menggemaskan. Robot yang sebelumnya diciptakan sebagai bahan penelitian untuk melihat prose tumbuh kembangnya seorang anak ini, dapat mengikuti sebanyak 56 gerakan otot. Ia pun memiliki 197 sensor di seluruh badannya yang bekerja seperti indra perasa pada manusia. Kamera yang diletakkan dimatanya pun mempunyai kemampuan untuk mengenali benda disekitarnya yang dalam bahasa manusia sering disebut sebagai mata.

Yang lebih hebat adalah, robot ini dapat berkembang selayaknya anak – anak yang tumbuh menjadi remaja, hingga akhirnya menjadi dewasa. Terpikirkah apa yang terjadi ketika robot ini mendapatan “pendidikan” yang buruk? Dengan kemampuan super yang dimilikinya, ia akan menjadi ‘Super Psikopat’ yang mengerikan.
ritzander – www.kaskus.us

Saya termasuk penggemar permen dan setelah membaca ini, mungkin, akan lebih berhati-hati memilih permen yang akan dimakan, hehe… Orang tua terutama yang memiliki anak-anak perlu memperhatikan kondisi ini.
Sebenarnya, kalau dipikir-pikir, kebanyakan makanan yang beredar di masyarakat adalah bahan makanan yang tidak baik untuk kesehatan. Lalu, apakah kita akan memilih jalur ekstrim untuk tidak makan sama sekali, atau masih mentolerir dengan berbagai pengamanan dan keterbatasan?

Penikmat Permen Rentan Gagal Ginjal
Senin, 23 Maret 2009

Dampak Pengendapan Bahan Tambahan Imitasi
Permen
SAAT ini anak dimanjakan oleh beraneka merek permen. Bentuk dan rasanya pun bermacam-macam. Padahal, ada kandungan permen yang tak baik buat kesehatan. “Bahkan, bila dikonsumsi jangka panjang, memungkinkan munculnya kegagalan fungsi ginjal. Karena itu, apa pun alasannya, saya tak merekomendasikan orang tua memberikan permen jika anaknya meminta,” tegas Andriyanto. Bahan yang tak baik untuk kesehatan tersebut adalah zat pewarna. Apalagi, kebanyakan permen menggunakan zat pewarna yang tak direkomendasikan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Misalnya, warna merah dari rhodamin B atau permen berwarna kuning yang menggunakan metal yellow. “Itu berbahaya. Sebab, rhodamin B merupakan bahan pewarna tekstil. Tentu, ini tak boleh dimanfaatkan sebagai bahan pencampur makanan,” jelas dosen Akademi Gizi Surabaya tersebut.

Selain itu, ada beberapa produk permen yang menggunakan pemanis buatan berbahan aspartam. Bila dikonsumsi dalam jumlah berlebih, permen yang mengandung zat tersebut bisa mencetuskan kanker. Batas maksimal konsumsi aspartam adalah 40 miligram (mg) per kilogram berat badan. Ada pula yang menggunakan sakarin. Gula buatan ini menghasilkan rasa sangat manis, biasanya menimbulkan rasa pahit atau getir di lidah konsumen.
”Belum lagi tambahan bahan lain berupa asam organik yang memberikan rasa segar buah-buahan. Misalnya, asam sitrat. Bila berlebihan, bahan tersebut membahayakan lambung” terangnya.

Ketua Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Surabaya itu menambahkan, bahan imitasi (buatan) sangat sulit dicerna tubuh, terutama ginjal. ”Kerja ginjal akan makin berat dengan adanya bahan imitasi tersebut,” jelasnya. Kondisi itu membuat penikmat permen rentan mengalami gagal ginjal. Andriyanto mengatakan, dampak tersebut tak langsung muncul dalam waktu satu atau dua tahun. ”Biasanya baru muncul setelah usia 40 tahunan,” ujarnya. Padahal, di usia tersebut seseorang sedang giat-giatnya bekerja. Bila sudah sakit parah, dia tentu akan menjadi beban keluarga. Selain itu, tak semua bahan pemanis, pengawet, dan pewarna buatan tersebut bisa diproses dan dibuang dari tubuh. Ada kemungkinan mengendap bertahun-tahun. ”Benda asing bila mengendap bertahun-tahun berdampak perubahan sel-sel tubuh. Hal ini yang memungkinkan munculnya kanker,” jelasnya.

Dampak lain, permen berisiko memunculkan sindrom metabolik. ”Hampir tak ada kalori yang bermanfaat” jelasnya. Nah, kelebihan kalori ditumpuk di tubuh dalam bentuk cadangan lemak. Hal ini berakibat anak mengalami kelebihan berat badan. Padahal, kegemukan berkaitan erat dengan kencing manis dan penyakit jantung koroner. ”Permen juga membuat anak mudah terkena karies gigi, terutama bila tak rajin sikat gigi atau minum air putih untuk menghilangkan sisa-sisa permen yang menempel di rongga mulut,” kata dia. Bahkan, ada penelitian yang mengaitkan permen dengan penurunan kadar intelegensi. Yakni, tingkat IQ anak yang mengonsumsi permen lebih rendah 5-10 persen dibandingkan anak yang terbiasa makan karbohidrat kompleks berupa nasi atau kentang. Ada satu hal yang patut diingat orang tua. Yakni, konsumsi permen terlalu banyak akan mengurangi nafsu makan, itu terjadi bila mengulum permen mendekati jadwal makan. ”Gula yang terkandung dalam permen memberikan efek kenyang. Hal ini mengurangi selera makan anak,” paparnya. (ai/nda)
Memilih Permen untuk Anak
- Pilih permen berharga mahal. Itu menunjukkan, bahan pewarna, pemanis, dan pengawet sesuai dengan ketentuan.
- Pilih permen bertekstur keras. Ada waktu bagi anak untuk menghabiskan permen dengan cara dikulum.
- Hindari permen bertekstur lunak. Anak cenderung mengunyah dan langsung telan. Sisa permen memicu karies gigi.

Sumber: Andriyanto

batampos.co.id/…/_Penikmat_Permen_Rentan_Gagal_Ginjal_.html

Ini adalah tulisan pertama saya yang saya ikutkan dalam sebuah kompetisi “kompetiblog 2010″.

Meskipun ga menang, hehe…

Anak-anak Belanda Paling Bahagia di Dunia

“Dalam sebuah survey yang memantau tingkat kebahagiaan anak di dunia, ternyata anak-anak Belanda adalah yang paling bahagia di dunia.” (kompasiana.com)

“Jajak pendapat dalam majalah kawula muda Kidsweek menunjukkan bahwa anak berusia antara 7 sampai 10 tahun memberi nilai 8,8 untuk ibu dan 8,9 untuk ayah mereka. Anak antara 11 sampai 15 tahun agak turun kepuasaannya dengan ayah mereka, ia dinilai 8,6, sedang ibu tetap saja mendapat nilai yang sama.” (static.rnw.nl)

Hmm… Masa iya? Memangnya apa kelebihan negeri yang terkenal karena kincir anginnya itu dibandingkan dengan negara-negara lain yang tidak kalah maju? Dibandingkan Jepang, Amerika, Inggris, Perancis atau mungkin dengan Indonesia. Bener gak tuh hasil surveynyaa???

Saya begitu penasaran mengapa bisa seperti itu, akhirnya setelah beberapa pencarian, dengan mengemix beberapa artikel yang saya temukan, saya bisa menyimpulkannya dalam artikel yang saya tulis ini. Coba kita lihat !

Menurut saya, seorang anak akan bahagia apabila dia mendapatkan perlindungan, perawatan, kenyamanan, keamanan, perhatian, dan pendidikan dari orang-orang terdekatnya, terutama dari kedua orang tuanya, barulah karena dipengaruhi oleh faktor lingkungannya. Itu berarti, aktor utama yang akan sangat berperan bagi kehidupan anak adalah kedua orang tuanya. Semua itu bermula dari awal anak tersebut berada di dalam kandungan Ibu hingga ia tumbuh dan berkembang menjadi orang dewasa.

Dari artikel yang saya baca di Harian Sindo (31/03/2008), dijelaskan bahwa wanita-wanita di Belanda lebih memilih melahirkan alami daripada dengan bantuan alat (red: caesar, vacoom, dll). Menurut hasil investigasi, melahirkan secara alami lebih disukai wanita Belanda sampai mereka merasakan komplikasi yang memaksa mereka mendapatkan bantuan rumah sakit.
Belanda merupakan negara dengan angka kelahiran bayi di rumah tertinggi di Eropa, mencapai sekitar 30 persen. Hanya 10 persen wanita Belanda yang melakukan operasi caesar. Ternyata, kuncinya terletak pada filosofi masyarakat Belanda yang masih menganggap bahwa kelahiran seorang bayi merupakan proses alamiah yang tidak seharusnya dicampurtangani urusan medis. Selama semua baik-baik saja, masyarakat Belanda masih memercayakan penanganan kelahiran bayinya kepada bidan di rumah ketimbang dokter di rumah sakit. Hmm… Dari proses melahirkannya saja mereka begitu memegang filosofi yang mereka anut !

Selanjutnya, ketika anak telah lahir ke dunia, tibalah saat dimana ia akan memperoleh pengasuhan dari keluarganya terutama orang tua. Dalam fase perkembangan ini pula, perhatian, kasih sayang, kenyamanan, keamanan, akan menentukan apakah anak-anak akan merasa bahagia di rumah atau justru sebaliknya.

Seorang pakar pendidikan Belanda, Justine Pardoen mengatakan bahwa orangtua Belanda berusaha sebaik-baiknya mendidik anak mereka.Ternyata, di Belanda itu, para orang tuanya lebih banyak memiliki waktu untuk dihabiskan dengan anak-anak, dengan banyaknya waktu yang mereka miliki, maka perhatian, kasih sayang mereka akan lebih banyak tercurah pada sang anak. Mereka lebih banyak memiliki waktu untuk mengurus anak, mulai dari memberikan perhatian dan kasih sayang, menstimulasi perkembangan anak, menanamkan pendidikan pada anak, dan tentunya sang anak akan merasa bahagia mendapatkan kasih sayang dari otrang tuanya. Dampak lebih jauhnya, perkembangan mereka di masa kecil ini tentu akan memengaruhi masa depan mereka, lebih banyak anak yang berkembang sesuai potensinya, lebih banyak anak yang sukses, semua itu berkat dukungan orang tua, terutama pada saat masa kecil mereka. Seperti yang kita tahu, bahwa penglaman masa kecil akan sangat teringat dan berdampak pada kehidupan selanjutnya.

Sekarang, mengapa para orang tua di Belanda lebih banyak memiliki waktu untuk anak-anak mereka? Hmm… Di Belanda sudah lama dikenal konsep work sharing, dan ada undang-undang yang melarang employer membedakan gaji antara pekerja full time dengan pekerja part time. Jumlah uang yang diterima jelas berbeda, karena yang satu bekerja full time sedangkan yang lainnya part time, tetapi upah perjam, asuransi kesehatan, dan tunjangan-tunjangan lainnya adalah sama. Ini membuat para orang tua di Belanda lebih bebas dan tenang dalam merencanakan kondisi finansial keluarga dengan tidak mengorbankan waktu berharga bersama anak-anak. Menurut saya, sebenarnya bukan karena hal itu saja, orang-orang Belanda mungkin memang memiliki anggapan bahwa anak adalah sesuatu yang sangat penting yang harus dijaga, jika tidak, mungkin saja mereka menghabiskan waktu yang dimiliki hanya untuk bersenang-senang sendiri. Wah, Indonesia perlu tuh kayak gitu, biar anak-anak Indonesia juga bahagia, terus bisa memajukan negara.

Bagaimana dengan di Indonesia?

Indonesia memang belum bisa menerapkan undang-undang yang seperti itu, tetapi kita bisa mengakalinya dengan cara lain. Orang tua dapat saling bekerjasama dalam rumah tangga, dalam hal pengurusan rumah tangga maupun membesarkan anak. Ayah bisa membantu Ibu memasak kalau Ibu sedang mengurus si kecil. Begitu pula Ibu, bisa membantu Ayah mendapatkan penghasilan ketika penghasilan Ayah belum mampu mencukupi. Intinya, di Indonesia itu, adat dan budayanya udah bagus banget, tinggal kitanya aja mau ngelaksanain dengan “bener” atau gak. Hidup Indonesia…!!!

kompasiana.com

lifestyle.okezone.com/…/wanita-belanda-pilih-melahirkan-alami -

static.rnw.nl/migratie/www.ranesi.nl/…/belanda_didik230508